Jumat, 31 Oktober 2014

Just Knew It, That I Love You (Chapter 3)

Main Cast      : - Park Chan Yeol (EXO)
          - Kim Yae Rin (OC)
          - Lee Se Yeong (OC)
          - Kim Jong In (EXO)

Other cast       : You'll find it later

Ia pun menceritakan tentang Se Yeong kepadanya, awalnya Kai cukup terkejut saat mendengar cerita Yae Rin. Dia masih terus memeluk dan menenangkan Yae Rin. Saat Yae Rin mulai tenang, Kai langsung menghapus air mata Yae Rin. Yae Rin kembali melamun setelah itu. Dan tanpa dia ketahui, Kai langsung mencium bibirnya. Yae Rin hanya membulatkan matanya apa yang Kai lakukan sekarang. Setelah ciuman itu lepas, Yae Rin langsung melihat ke arah Kai.
"A-ah, m-mian. Aku tidak bermaksud-" ucap Kai.
"Gwaenchanha, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Sebaiknya aku pulang, annyeong." ucapnya terburu-buru.
"Mau aku antar pulang?" tanya Kai.
"Tidak perlu, Minseok oppa sudah menunggu tadi." ucap Yae Rin
Dia langsung berjalan keluar rumah sakit dan masuk ke dalam mobil kakaknya. Kakaknya sempat khawatir melihat keadaanya sehabis menangis, tapi ia hanya bilang baik-baik saja. Dan mereka pun segera pulang, karena sudah larut malam.

-Yae Rin POV-

Hari ini aku merasa kesepian, karena Se Yeong tidak masuk. Ya, karena dia masih dirawat. Aku berjalan menuju kantin dan memesan minuman. Aku langsung mencari meja yang kosong dan segera duduk. Aku hanya meminum Ice Cappucino-ku sambil melihat ponselku. Se Yeong belum mengabariku hari ini. Seseorang langsung duduk dihadapanku. itu Chanyeol, disusul oleh Kai. Saat aku melihat Kai, kami sedikit canggung dengan kejadian semalam. Saat aku melamun memikirkan kejadian itu, aku langsung di kejutkan oleh Chanyeol yang mengelitiki pinggangku.
"YA! Apa-apaan kau ini?" bentakku.
"Habisnya, dari tadi dipanggil hanya diam saja. Se Yeong kemana?" tanya Chanyeol.
"Memang dia tidak bilang padamu?" tanyaku kembali.
"Tidak, dia tidak bilang apa-apa tadi pagi."
"Dia sedang sakit. Katanya hanya kelelahan saja." jawabku sekenanya.
"Jinjja? Kenapa dia tidak bilang padaku."
"Mungkin dia tidak mau kau khawatir, Yeol." kini Kai yang menjawab.
Kami bertiga terus mengobrol dan segera masuk ke kelas. Sepulang kuliah nanti kami berniat menjenguk Se Yeong.

Kami bertiga langsung berangkat ke Rumah Sakit, dan bisa kulihat kalau Chanyeol sangat khawatir dan tidak sabar untuk bertemu dengan Se Yeong. Sesampainya di kamar Se Yeong, dia sedang menonton televisi. Chanyeol langsung duduk disamping Se Yeong dan menanyakan berbagai macam pertanyaan. Sedangkan aku dan Kai, hanya menggelengkan kepala dengan melihat tingkahnya.
"Kau tidak apa-apa 'kan? Apakah kepalamu sakit? Dan kenapa kau tidak bilang padaku?" tanya Chanyeol.
"Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir, aku hanya kelelahan." jawab Se Yeong setenang mungkin.
"Kau yakin tidak apa-apa? Kenapa bisa masuk Rumah Sakit?"
"Iya, aku tidak apa-apa. Kemarin aku langsung dibawa kesini sama orang tuaku."
Aku melihat mereka terlihat mesra sekali. Entah kenapa ada rasa cemburu, atau mungkin karena aku belum memiliki pacar? Itu memang sudah nasib. Bosan dengan melihat kelakuannya, aku dan Kai duduk di sofa dan sibuk dengan urusan masing masing. Aku yang baru mengeluarkan ponselku dari tas, melihat pesan dari kakakku.


From: Minseok Oppa

Kau dimana?
Appa dan Eomma menyuruhmu pulang.
Ada hal penting yang ingin mereka beritahu.


"Yeol-ah, Yeongie-ah, aku pulang dulu. Tidak apa kan?" tanyaku.
"Tidak apa. Nanti malam kesini ya?" pinta Se Yeong.
"Ne, arasseo. Bye~"
Aku pun keluar kamar dan segera keluar dari gedung Rumah Sakit. Tiba-tiba saja seseorang memanggilku dari belakang.
"Rin-ah!"
"Hm, Kai. Ada apa?"
"Kau ingin pulang? Bareng denganku saja."
"Lalu, Chanyeol bagaimana?" tanyaku.
"Tadi dia bilang tidak apa-apa. Aku juga malas menunggunya."
"Oh, baiklah. Tapi kau tidak keberatan kan kalau aku bareng denganmu?"
"Of course not. Ayo kita pulang." ajaknya
Aku pun langsung mengikutinya dan masuk ke dalam mobil. Lalu dia segera mengantarkan aku pulang.

-Author POV-

Yae Rin segera turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada Kai. Dia pun langsung masuk ke dalam rumah, menuju ruang tamu. Disana sudah ada kakaknya dan kedua orang tuanya.
"Ada apa?" tanya Yae Rin to the point.
"Hm, begini. Tempat kerja Appa, meminta kepadaku untuk melanjutkan pekerjaan ini di cabang yang lain."
"Maksudnya?" tanya Yae Rin kembali.
"Jadi apa akan menjadi CEO di cabang dari tempat kerja Appa."
"Wah, Chukkhaeyo, Appa. Tapi, tempatnya dimana?" tanya kakaknya.
"Kalian jangan kaget. Cabang tersebut ada di China." ucap Eomma-nya.
"Kenapa jauh sekali, lalu aku dan Minseok oppa bagaimana?" tanya Yae Rin.
"Kami sudah memutuskan, kalau Appa dan Eomma saja yang pindah. Kalian berdua tetap disini. Kami akan terus mengirim uang untuk kalian setiap bulan." kata Appa-nya
Yae Rin dan kakaknya pun hanya bisa setuju dengan hal tersebut. Mereka tidak mungkin ikut pindah, karena mengurus kepindahan sangat sulit. Apalagi pindah universitas.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

*3 tahun kemudian*

Tidak terasa, sudah tiga tahun berlalu. Dan sudah tiga tahun pula Yae Rin masih setia menemani Se Yeong yang sekarang dirawat di Rumah Sakit. Setelah Yae Rin mengetahui penyakit Se Yeong, dia terus menyembunyikan hal tersebut dari sahabatnya, Chanyeol. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya Chanyeol mengetahui tentang penyakit Se Yeong. Setelah mengetahui hal itu, Chanyeol semakin protektif terhadap Se Yeong. Dan Yae Rin juga baru menyadari kalau dirinya mencintai Chanyeol. Setiap hari Yae Rin menyaksikan adegan romantis oleh kedua sahabatnya itu- Chanyeol dan Se Yeong -. Sudah 2 minggu lebih Se Yeong dirawat, menjalani Kemoterapi di Rumah Sakit. Tetapi kondisi Se Yeong kian hari, makin menurun. Dokter sudah menyarankannya untuk dirawat di Rumah Sakit dan menjalani perawatan intensif. 

-Yae Rin POV-

Sudah 2 minggu lebih Se Yeong dirawat, tetapi kondisinya makin menurun. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan untuk kesahatan Se Yeong. Aku hanya berdua dengannya saat ini. Aku yang sedang menerima pesan, tiba-tiba saja Se Yeong langsung menepuk pundakku. Aku pun menolehkan kepalaku ke arahnya.
"Waegeuraeyo? Kau ingin sesuatu?" tanyaku.
"Yae Rin-ah~" panggilnya.
"Iya, ada apa?" sahutku.
"Bagaimana, jika aku sudah tidak ada disini lagi?"
"Itu lebih bagus, jadi kau bisa bebas dari kemoterapi lagi."
"Bukan itu maksudku, jika aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, bagaimana?"
"Yeong-ah, jangan pernah bicara seperti itu..." ucapku sambil menggenggam tangannya.
"Aku mohon, Rin-ah... Jaga Chanyeol jika aku sudah tidak ada lagi..."
"Yeong-ah-"
"Tolong kau selalu berada disampingnya, merawatnya dan menjadi pendampingnya."
"Yeong-ah, itu tidak mungkin. Kau pasti sembuh, dan tidak mungkin aku menggantikan posisimu untuk Chanyeol."
Kami hanya bisa menangis. Entahlah, ucapan Se Yeong membuatku sangat sedih. Aku yakin kalau dia pasti bisa melawan penyakitnya, walaupun kemungkinannya sangat kecil. Tak lama kemudian, Chanyeol dan Kai masuk ke dalam kamar. Aku dan Se Yeong langsung menghapus air mata kami dan tersenyum ke arah mereka. Dan kami pun hanya mengobrol biasa, sambil bercanda dan seterusnya seperti itu hingga malam tiba. Aku pun pamit pulang kepadanya, dan dia juga harus istirahat.

*Ke esokan harinya*

Aku pun menjenguk Se Yeong lagi. Saat aku masuk ke dalam kamarnya, sudah ada kedua orang tuanya, Chanyeol dan dokter yang merawat Se Yeong. Muka mereka terlihat sedih. 'Ada apa dengan mereka?' batinku. Aku langsung menhampiri Chanyeol.
"Yeol-ah, ada apa?" tanyaku khawatir. Dia hanya terdiam.
"Kondisinya semakin memburuk. Kita hanya bisa berdoa, mungkin akan ada keajaiban dari Tuhan." kata dokter.
Se Yeong tidak sadarkan diri. Aku duduk disampingnya dan berdoa. Orang tua Se Yeong Chanyeol pun juga sama. Tak lama kemudian, Se Yeong kemudian sadar dan Ayah Se Yeong langsung memanggil dokter.
"Yeong­­-ah..." panggilku lirih.
"R-rin-ah..." ucapnya terbata-bata.
"Kau pasti bisa, Yeong-ah. Kau pasti bisa." ucapku dengan menahan tangisanku.
"To-tolong ja-jaga Chanyeol un-untuk ku..."
Dokter pun langsung datang dan memeriksa keadaannya. Se Yeong yang memandang kedua orang tuanya, Chanyeol dan diriku.
A-appa, Eomma... Kalian adalah orang tua yang paling hebat bagiku, walaupun kalian harus berpisah pada akhirnya... Terima kasih sudah merawatku selama ini..." lirihnya.
"Channie...  Kau adalah seseorang yang berarti bagiku, you're my happy virus... Terima kasih sudah menemaniku selama ini..."
"Dan kau Yae Rin... Kau adalah sahabatku yang paling kusayangi, kau yang terbaik... Terima kasih juga sudah menjadi sahabatku selama ini..."
"Terima kasih kalian semua, sudah ada waktu untukku selama ini..." ucapnya.
Dan seketika, dia menutup matanya dan tersenyum. Aku langsung menghampirinya.
"Yeong-ah, Yeong-ah..." panggilku berkali-kali. Dia tidak bangun.
"LEE SE YEONG! LEE SE YEONG!" aku pun berteriak.
Dokter pun memeriksanya kembali dan apa yang diucapkan oleh dokter membuatku menangis sejadi-jadinya. Aku pun langsung terjatuh di lantai dan hanya bisa menangis. Aku bisa mendengar kedua orang tua Se Yeong menangis, dan Chanyeol juga menangis.

*Seminggu kemudian*

Setelah seminggu kepergian Se Yeong yang sangat membuatku sedikit tertekan, tapi aku berusaha tegar. Dan aku sudah melakukan aktivitasku seperti dulu lagi. Dan yang kulihat dari seminggu ini, sifat Chanyeol lah yang paling berubah. Dia menjadi orang yang pendiam, tidak lagi menjadi happy virus yang biasa aku lihat. 'Apakah kau sebegitu cintanya pada Se Yeong?' batinku. Aku hari ini tidak ada jadwal kuliah, jadi aku bersantai di apartemenku. Apartemenku? Ya, aku memang tinggal di apartemen, hanya karena dekat dengan kampusku. Dan aku disini tinggal 2 tahun sebelumnya. Tak heran jika ada yang mencariku, selalu bertanya aku ada dirumah atau apartemen.
Sedikit melupakan tugas kuliahku dan kesedihanku, aku langsung menyalakan tv mencari acara yang bagus. Dan sialnya, tidak ada yang menarik dimataku. Tiba-tiba saja ponselku bergetar, aku pun melihat layar ponsel. 
'Kai is calling'
Aku pun segera menjawab telponnya.
"Yeoboseyo? Kenapa, Kai?" tanyaku langsung.
"Rin-ah, apa kau bisa membantuku?" tanya Kai kembali.
"Ada apa?"
"Tolong jemput aku dan Chanyeol di club yang dekat apartemenmu. Chanyeol mabuk berat."
"Baiklah aku akan ke sana.
Aku pun segera mengambil cardigan dan keluar dari apartemenku. Sesampainya di club yang dimaksdud Kai, aku pun masuk ke dalam dan mencari mereka. Dan bisa kulihat dari kejauhan, Kai berusaha memapah Chanyeol yang mabuk. Aku pun segera menghampiri mereka dan membantu memapah Chanyeol.
"Dari jam berapa dia disini?" tanyaku pada Kai.
"Satu jam yang lalu. Saat aku datang, dia sudah minum banyak." jawabnya.
Ya beginilah Chanyeol, semenjak Se Yeong meninggal, dia menjadi seperti ini. Seperti yang aku bilang, tidak ada lagi happy virus nya. Dia juga lebih sering mabuk-mabukan untuk menghilangkan stress nya. Aku pun membawanya ke apartemenku dan menidurkannya di kamar tamu. Kai langsung pamit pulang karena dia dicari oleh orang tuanya. Aku pun melihat keadaan Chanyeol yang sekarang lebih menyedihkan. Tanpa sadar aku pun menangis melihatnya. Menangisi karena keadaannya dan aku pun merasa sakit karena aku juga mencintainya. Tetapi, mau bagaimana lagi? Aku harus apa? Dia tidak akan pernah melihatku lebih dari seorang sahabat. Dia hanya mencintai Se Yeong.
'Haruskah kau sampai seperti ini? Kapan kau berubah menjadi happy virus kami yang dulu?' kataku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar